Konaweinfo.com – Jerit pilu menggema di Desa Puday, Kecamatan Wonggeduku Barat, Kabupaten Konawe, Sabtu (12/04). Rumah sederhana milik orang tua Riki berubah menjadi lautan duka saat kabar kepergiannya menyebar. Ia menjadi korban kebiadaban Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Yahukimo, Papua.
Tangis histeris pecah saat sang istri (jilbab merah) tiba di rumah duka, menggandeng erat kedua anaknya yang belum mengerti arti kehilangan.
Dengan wajah pucat dan langkah gemetar, ia langsung merangkul ibu mertuanya. Dua perempuan yang sama-sama kehilangan sosok yang mereka cintai, saling memeluk dalam linangan air mata yang tak terbendung.
“Kenapa secepat ini…?” lirih sang istri, di tengah isak tangis keluarga dan warga yang ikut berduka.
Suasana makin mengharu biru dan Isak tangis menyatu, menciptakan suasana yang memilukan. Tak sedikit warga yang tak kuasa menahan air mata, menyaksikan dua anak kecil berdiri kebingungan di tengah kerumunan pelayat, seolah mencari sosok ayah yang tak akan pernah kembali.
Riki merantau ke Papua bersama sepupunya, Yuda, demi menghidupi keluarganya. Mereka bekerja sebagai pendulang emas, namun takdir berkata lain.
Dalam serangan tak berperikemanusiaan itu, Riki, Yuda, dan satu korban lainnya, Muhammad Arif (51), warga Kabaena, Bombana, tewas mengenaskan.
Ketiga jenazah saat ini berada di RSUD Dekai. Tim gabungan TNI-Polri telah mengevakuasi mereka, dan proses autopsi serta identifikasi masih berlangsung. Karena kondisi jenazah yang membusuk, tim medis mempertimbangkan pemberian formalin sebelum dipulangkan.
Pemulangan direncanakan dalam waktu dekat, menunggu kesiapan keluarga yang masih terpukul oleh kehilangan besar ini.
Di tengah luka yang mendalam, pemerintah daerah dan aparat setempat terus memberikan pendampingan.
Namun tak ada kata penghibur yang mampu menenangkan duka seorang istri yang kehilangan suami, atau dua anak kecil yang kehilangan ayah—satu-satunya pahlawan dalam hidup mereka.
