Konawe Utara – Peredaran narkoba di wilayah Kabupaten Konawe Utara kian memprihatinkan. Hampir seluruh kecamatan di daerah itu diduga telah tersusupi jaringan peredaran sabu-sabu.
Menanggapi kondisi tersebut, Direktur Aliansi Masyarakat Peduli Hukum (Ampuh) Sulawesi Tenggara, Hendro Nilopo, angkat bicara. Ia menilai Kepolisian Resor (Polres) Konawe Utara belum mampu membongkar aktor utama di balik maraknya peredaran narkoba di wilayah Bumi Oheo.
Menurut Hendro, aparat kepolisian sejauh ini hanya menangkap pelaku di level perantara, sementara bandar besar yang diduga menjadi pemasok utama belum tersentuh.
“Yang ditangkap ini bukan gembong atau bandar besarnya, melainkan hanya perantara. Pertanyaannya, bandar besarnya ke mana?” ujar Hendro kepada media ini, Kamis (16/4/2026).
Ia mengatakan, dari penangkapan para perantara tersebut, seharusnya polisi dapat mengembangkan kasus untuk mengungkap jaringan utama pemasok narkoba di Konawe Utara.
“Semakin sering dilakukan penangkapan artinya peredaran semakin parah. Jangan sampai maraknya penangkapan justru dianggap sebagai capaian, padahal bandar utamanya belum tertangkap,” katanya.
Atas kondisi itu, Ampuh Sultra mendesak Kapolda Sulawesi Tenggara untuk segera mengevaluasi dan mencopot Kapolres Konawe Utara, kemudian menggantinya dengan pejabat yang dinilai mampu menuntaskan persoalan narkoba di daerah tersebut.
“Kami minta Kapolres Konut dicopot. Kami butuh Kapolres yang mampu mengungkap dan menangkap gembong besar di balik maraknya peredaran narkoba di Konawe Utara,” tegasnya.
Hendro yang juga putra daerah Konawe Utara mengungkapkan, pihaknya tengah menyiapkan aksi demonstrasi besar-besaran di Mapolda Sultra sebagai bentuk desakan terhadap evaluasi kinerja Polres Konawe Utara.
“Kami sedang melakukan konsolidasi. Yang jelas, kami sangat kecewa terhadap kinerja Polres Konut dalam pencegahan dan pemberantasan narkotika di Konawe Utara,” pungkasnya.
