Kendari – Detik-detik tanah longsor yang menimbun truk dan menewaskan seorang pria asal Tongauna, Kabupaten Konawe, terekam kamera CCTV di kawasan Jalan Budi Utomo, Kelurahan Wuawua, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Senin (3/11/2025) siang. Korban diketahui bernama Sul, sopir truk yang tertimbun tanah bersama kendaraannya.
Dalam rekaman CCTV yang beredar, tampak dua truk parkir berdampingan di pinggir jalan perumahan. Beberapa detik kemudian, tebing tanah di belakang tiba-tiba longsor menimpa salah satu truk. Seorang sopir berhasil berlari menyelamatkan diri, sementara Sul yang berada di antara dua truk tak sempat menghindar.
Kanit II Tipidter Satreskrim Polresta Kendari, Ipda Ariel M. Ginting, membenarkan kejadian itu. Ia mengatakan, peristiwa terjadi sekitar pukul 12.00 Wita, saat korban dan rekannya sedang beristirahat siang.
“Kedua sopir kendaraan itu sedang beristirahat sambil berteduh. Longsor terjadi tiba-tiba, korban tidak sempat menyelamatkan diri,” ujar Ariel, Selasa (4/11/2025).
Dari hasil pemeriksaan, polisi tidak menemukan aktivitas galian C atau penambangan di lokasi tersebut. Namun, area itu diketahui merupakan bekas pengambilan tanah yang sudah lama tidak digunakan.
“Jadi bukan kecelakaan kerja. Korban juga bukan pekerja galian. Ini murni tanah longsor,” tambahnya.
Rekaman CCTV tersebut kini menjadi bahan analisis penyidik untuk memastikan kronologi kejadian. Polisi juga telah memasang garis polisi di sekitar lokasi dan menunggu hasil pemeriksaan teknis dari instansi berwenang terkait kondisi tanah dan keamanan lahan.
“Video CCTV membantu kami memastikan posisi korban sebelum longsor dan arah pergerakan tanah. Pemeriksaan lanjutan akan dilakukan oleh pihak terkait,” jelas Ariel.
Jenazah korban telah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Kendari dan malam harinya dipulangkan ke kampung halamannya di Kelurahan Mataiwoi, Kecamatan Tongauna, Kabupaten Konawe, sekitar pukul 20.00 Wita, Senin (3/11/2025). Suasana haru menyelimuti proses pemulangan jenazah ke rumah duka.
Sementara itu, warga sekitar berharap pemerintah segera meninjau ulang kondisi tebing di kawasan tersebut agar kejadian serupa tidak terulang.
