Konaweinfo.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tenggara memaparkan kondisi ekonomi terbaru dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 di Kendari, Kamis (28/11/2025). Agenda ini menyoroti tekanan global yang masih berlanjut sekaligus capaian dan proyeksi ekonomi Sultra.
Deputi Kepala KPwBI Sultra, Thathit Suryono, menjelaskan bahwa ekonomi global 2025 masih dibayangi konflik di Timur Tengah yang menghambat rantai pasok, serta kebijakan tarif dagang Amerika Serikat yang melemahkan konsumsi dan keyakinan pelaku ekonomi.
Dampaknya terasa pada negara-negara mitra seperti Tiongkok dan Jepang.
Meski begitu, ekonomi Eropa tumbuh lebih baik dari proyeksi dan lembaga internasional menempatkan pertumbuhan global di kisaran 2,3–3,2%.
Indonesia dinilai tetap mampu menjaga ketahanan ekonomi, ditopang konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan ekspor. Inflasi masih berada dalam sasaran. Pertumbuhan nasional 2025 diperkirakan mencapai 4,7–5,5%.
Pada Triwulan III 2025, perekonomian Sulawesi, Maluku, dan Papua tumbuh 4,96%. Sultra mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni 5,65% (yoy), ditopang industri pengolahan berbasis ekspor dan konsumsi rumah tangga.
Inflasi di Sultra kembali berada dalam rentang target pada Oktober 2025. Aktivitas digitalisasi pembayaran juga meningkat, terlihat dari transaksi QRIS yang mencapai 23,29 juta transaksi sepanjang 2025.
BI memperkirakan ekonomi Sultra pada 2026 tumbuh lebih tinggi. Pendorongnya berasal dari sektor pertanian, perluasan kapasitas industri logam dasar yang masuk rantai pasok baterai kendaraan listrik, serta pembangunan kawasan industri.
Pertumbuhan tersebut berpotensi mengangkat daya beli, namun juga meningkatkan tekanan inflasi sehingga koordinasi pengendalian harga tetap diperlukan.
PTBI 2025 juga merilis BI Sultra Award bagi 18 instansi dan pihak yang dinilai berkontribusi pada penguatan ekonomi daerah sepanjang 2025. BI menyatakan akan melanjutkan kolaborasi kebijakan untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi Sultra.
