Konawe Utara – Aliansi Pemuda Masyarakat Lasolo Kepulauan dan Andowia menyampaikan sejumlah tuntutan kepada manajemen PT Sultra Sarana Bumi (SSB) dalam unjuk rasa yang digelar di Kecamatan Andowia, pada Senin (9/2/2026) sekitar pukul 13.00 Wita.
Koordinator Lapangan Aliansi Pemuda Masyarakat Lasolo Kepulauan–Andowia, Muhardin, mengatakan tuntutan tersebut merupakan aspirasi masyarakat dan tenaga kerja lokal di wilayah lingkar tambang, khususnya Kecamatan Andowia.
“Kami mendesak pihak perusahaan segera melakukan perombakan manajemen, mulai dari HRD hingga KTT, karena dinilai tidak berpihak kepada masyarakat dan tenaga kerja lokal,” ujar Muhardin.
Ia menyebutkan, terdapat lima poin tuntutan utama yang disampaikan kepada manajemen PT SSB. Salah satunya adalah evaluasi sistem penerimaan karyawan, terutama terkait batas usia, serta pencopotan HRD site.
“Kami juga meminta agar Project Manager dan Kepala Teknik Tambang segera dicopot. Selain itu, humas perusahaan juga perlu dievaluasi karena tidak berjalan sesuai fungsi,” katanya.
Selain persoalan manajemen, aliansi turut menuntut penghapusan aturan pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat insiden tertentu di lingkungan kerja perusahaan.
“Aturan PHK akibat insiden ini sangat merugikan pekerja. Kami meminta aturan tersebut dihapus,” tegas Muhardin.
Aliansi Pemuda Masyarakat Lasolo Kepulauan–Andowia juga mendesak PT SSB agar segera melakukan pemberdayaan pengusaha lokal di wilayah lingkar tambang.
“Kami ingin pengusaha lokal diberdayakan, bukan hanya jadi penonton di daerah sendiri,” ucapnya.
Muhardin menambahkan, pihaknya siap menyerahkan data dan dokumen pendukung yang menjadi dasar seluruh tuntutan tersebut kepada manajemen perusahaan.
“Kami beri waktu 3×24 jam kepada manajemen PT SSB untuk memberikan jawaban atau merealisasikan tuntutan kami, terhitung sejak data kami serahkan,” pungkasnya.
Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah perwakilan aliansi serta perwakilan pemerintah setempat dan manajemen PT SSB.
