Puriala – Guru berinisial W.A di Puriala, Kabupaten Konawe, menyampaikan permohonan maaf setelah terpancing emosi saat menghadapi aksi penolakan oleh sejumlah siswa di lingkungan sekolah, Senin (2/11/2026).
Dalam klarifikasinya, W.A mengakui ucapan dan tindakannya saat menghadapi aksi tersebut kurang bijaksana. Ia berharap permintaan maafnya dapat meredakan situasi dan menjaga hubungan baik antara guru, siswa, serta pihak sekolah.
“Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh siswa, khususnya anggota OSIS, rekan-rekan guru, dan pihak sekolah atas ucapan dan tindakan saya yang kurang bijaksana dalam menyikapi aksi kemarin,” ungkap W.A, Selasa (3/11).
Ia menyadari sikapnya saat itu keliru karena terbawa emosi dan menjadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri.
“Saya menyadari sepenuhnya bahwa sikap saya saat itu keliru karena terbawa emosi. Saya adalah manusia biasa yang masih terus belajar untuk menjadi lebih baik,” ujarnya.
W.A juga berharap persoalan tersebut tidak memperkeruh hubungan antara guru, siswa, dan pihak sekolah.
Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan kronologi kedatangannya ke sekolah hingga terjadinya aksi penolakan oleh sejumlah siswa.
Menurut W.A, kehadirannya pada Senin merupakan bentuk pemenuhan panggilan kepala sekolah, Sumardin, S.Pd.
Sebelumnya, kepala sekolah mengirimkan pesan singkat yang memintanya hadir dan menemuinya di ruangan.
“Saya minta supaya kamu hadir di sekolah mulai hari Senin dan langsung saja temui saya di ruanganku,” demikian isi pesan yang diterima W.A.
W.A mengungkapkan, dirinya telah mendapat informasi mengenai kemungkinan adanya aksi penolakan sejak Sabtu malam melalui pesan dari sejumlah siswa.
Ia juga mengaku mendapat informasi bahwa siswa sempat dikumpulkan dalam apel siang dan ditanya mengenai penolakan terhadap dirinya.
Pada Minggu, W.A mengaku telah mengonfirmasi situasi tersebut kepada kepala sekolah. Ia bahkan meminta waktu untuk bertemu di rumah agar komunikasi dapat berlangsung lebih leluasa karena khawatir dengan rencana aksi siswa.
Namun, menurut W.A, kepala sekolah meyakinkannya bahwa situasi aman dan memintanya datang langsung ke sekolah pada Senin pagi.
Setibanya di sekolah, W.A mengaku sempat berbincang dengan kepala sekolah selama sekitar 10 menit. Setelah itu, kepala sekolah keluar dari ruangan dan memintanya tetap berada di dalam.
“Baru sekitar 10 menit saya berbincang di ruangan, kepala sekolah keluar dan meminta saya jangan keluar ruangan. Tiba-tiba terjadi aksi pelemparan batu ke atap sekolah dan teriakan siswa,” tuturnya.
W.A mengatakan dirinya akhirnya keluar dari ruangan karena khawatir kendaraannya dirusak oleh massa aksi.
Saat berada di hadapan siswa, ia mengaku berusaha menenangkan mereka dan meminta agar aspirasi disampaikan secara tertulis kepada kepala sekolah.
Namun, salah seorang siswa menjawab bahwa surat aspirasi telah disampaikan sebelumnya.
“Berarti dalam hal ini kepala sekolah sebenarnya sudah mengetahui aksi yang akan terjadi,” kata W.A.
W.A juga mengakui sempat terpancing emosi ketika merasa dirinya direkam tanpa persetujuan dan mendapat perkataan kasar dari sejumlah siswa.
Dalam situasi tersebut, ia secara spontan menyatakan akan menuntut pihak yang dianggap bertanggung jawab.
Meski demikian, W.A menegaskan tidak berniat menuntut para siswa dan meminta maaf atas perkataannya yang muncul karena emosi.
Selain itu, W.A menyayangkan sikap sejumlah rekan guru yang menurutnya hanya menyaksikan dan merekam aksi dari ruang guru tanpa berusaha meredakan situasi.
Di tengah aksi penolakan tersebut, W.A mengklaim masih mendapat dukungan dari sejumlah siswa yang berharap dirinya kembali mengajar di sekolah.
Seorang siswa yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa aksi tersebut tidak mewakili seluruh pandangan siswa.
“Kami tidak mau ikut-ikutan aksi itu. Sebenarnya di kelas kami dan masih banyak siswa lain yang suka kalau Ibu Guru W.A kembali mengajar karena beliau orangnya baik,” ungkap siswa tersebut.
Pernyataan itu menunjukkan adanya perbedaan pandangan di kalangan siswa terkait persoalan yang melibatkan W.A.
Meski demikian, W.A menyatakan menerima tuntutan siswa yang tidak menginginkan dirinya kembali mengajar di sekolah tersebut.
Ia menegaskan menghormati aspirasi siswa dan berharap semua pihak dapat menyikapi persoalan ini dengan kepala dingin agar tidak menimbulkan konflik berkepanjangan di lingkungan sekolah.
W.A berharap peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi bersama sehingga komunikasi antara guru, siswa, dan pihak sekolah dapat berjalan lebih baik ke depannya.
